Jaman dulu, sebelum teknologi kedokteran semaju sekarang, melahirkan adalah pertaruhan hidup atau mati bagi seorang ibu. Yang menolong persalinan adalah sibaso dan ibu-ibu sekampung yang sengaja berkumpul saat seorang ibu mau melahirkan. Apabila sudah lahir, mereka akan mengucapkan “horas, horas, horas” bersama-sama. Selanjutnya ibu-ibu itu akan melakukan makan bersama yang dinamakan “maresek-esek”.
Saking tingginya resiko kematian saat melahirkan, maka tanggapan pertama orang-orang terntang berita melahirkan adalah, “Apakah ibu dan bayinya selamat?” Yang kedua, “Songon dihana do?” Maksudna, bayi itu laki-laki atau perempuan? Persalinan yang tidak bisa normal dan harus dilakukan secara sesar (caesar) seperti ini dipastikan akan berakhir dengan kematian si ibu dan anak yang hendak dilahirkannya. Saat itu rumah sakit juga tidak ada. Adapun rumah sakit umum misalnya, operasi sesar belum semaju sekarang. Biasanya, ibu-ibu akan mencoba melahirkan dengan normal. Kalau gagal dan dilarikan ke rumah sakit, waktu sering tidak mencukupi lagi karena air ketuban sudah pecah. Padahal, sampai tahun 1980-an, persalinan melalui operasi hanya tersedia di RS HKPB Balige. Ibu-ibu yang dilarikan dari Kecamatan Doloksanggul ke rumah sakit itu sering meninggal di jalan.
Kita mundur dulu ke jaman sebelum kedatangan injil ke tanah Batak. Meninggal saat melahirkan adalah adalah sebuah kutukan. Rohnya dipercaya menjadi hantu yang jahat, yang akan kemudian akan mengganggu ibu-ibu melahirkan yang lain. Oleh karena itu, ibu-ibu yang meninggalnya demikian, biasanya tidak dikubur, tetapi dijatuhkan ke jurang yang dalam. Mayatnya pun keluar bukan dari pintu, melainkan dari jendela, agar hantunya tidak ingat jalan pulang. Setelah injil masuk ke tanah Batak tradisi ini ditanggalkan, namun sisa-sisa kepercayaan lama masih ada.
Seorang ibu yang baru melahirkan dianggap rentan terhadap serangan hantu. Orang Batak jaman dulu sangat percaya akan hal ini. Untuk menghindarinya, ibu melahirkan akan tidur di dapur dekat perapian. Dipercaya hantu takut pada api. Selain itu, api juga menjaga kehangatan si ibu dan bayinya.
Malam hari adalah giliran kaum bapak sekampung untuk berkumpul di rumah si ibu melahirkan. Tujuannya menjaga agar si ibu tidak kesurupan hantu, selain mengawasi nyala api dan membangunkan si ibu apabila bayinya menangis minta menyusu. Namanya adalah “mandungoi”. Untuk menghabiskan waktu bapak-bapak bermain kartu. Banyak mereka membuat alasan mandungoi untuk berjudi kartu.
Pada pagi hari ketiga, sebelum pulang ke rumah masing-masing, bapak-bapak dijamu makan enak oleh keluarga si ibu melahirkan sebagai ucapan terima kasih. Itulah yang disebut “mangan pandongoi”. Dengan sendirinya, setelah mangan pandungoi tidak ada lagi mereka yang datang ke rumah itu pada malam hari keempat. Lagi pula, masa rentan serangan hantu adalah tiga hari (admin).